Senin, 16 Januari 2012

Bintang Hatiku

“Bolehkah aku memelukmu ?” dia bertanya padaku lirih.
Aku tak sanggup saat matanya menatapku tajam,matanya yang indah bak cahaya bulan membuat aku takjub dan luluh .
“Maafkan aku” sambungnya di hadapanku .
Angin yang begitu dingin menusuk-nusuk sampai ke sumsum tulang dan matanya yang begitu indah membuatku terperangkap dalam labirin misteri tanpa jalan keluar.
“Aku menyayangimu” katanya sambil menatap wajahku.
“Aku juga”jawabku sambil menatapnya nanar.
Mata itu memandang entah kemana .mungkin pada cakrawala yang mulai bewarna jingga atau mungkin juga tidak melihat ke mana-mana dan hanya terpaku dalam kehampaan.
“Apa yang sedang kau pikirkan Aldi ?” tanyaku perlahan.
“Aku memikirkanmu, memikirkan diriku sendiri, memikirkan hubungan kita, dan memikirkan hal-hal yang indah” jawabnya datar.
Aldi menggenggam erat tanganku, ada kehangatan yang kurasakan walaupun tangan itu sebenarnya sedingin es.
“Bisa jadi kematian itu tidak menakutkan seperti yang kita duga. Mungkin malah membahagiakan. Pernahkah kau berpikir begitu ?” kataku sambil memandang kedua bola matanya.
Genggamannya bertambah erat. Dia melakukannya bukan untuk memberi kekuatan tetapi mendapatkan kekuatan. Agar dia tidak menangis dan menceburkan diri kelaut merah yang terisi darah segar .
“Kadang kupikir tempatku bukanlah disini. Tempatku jauh .Jauh sekali !” katanya sedih.
“Tempatmu disini, dihatiku” jawabku sambil meletakkan tangannya di dadaku.
Laras menatap tajam mata Aldi,seakan melihat gumpalan-gumpalan doa keluar dari hatinya .
“Kau bohong ! Dan kau egois . Aku ini cacat ,aku ini tidak berguna mana mungkin rasa itu masih untukku dan aku juga tidak pantas berada disini. Teganya kau berbohong dan ingin meninggalkanku.” katanya hampir menangis .
“Apakah aku pernah meninggalkanmu? Dan pernah sedikit saja melupakanmu ?” Laras balik bertanya dan itu seperti sebuah pukulan untuk Aldi .
“Entahlah ,apa ada hal yang begitu mengganggumu ?” suara lirih itu menunjukkan sekian banyak maaf yang dia cadangkan untuk Laras.
“Sudahlah ,kau tak usah berusaha untuk menenangkanku .Aku tahu sebenarnya kau tak ingin pergi bersamanya. Gina sahabat kecilmu, dialah yang menjadi penyebab kecelakaan maut itu yang membuatmu di vonis cacat seumur hidup Tapi aku tidak perduli kata mereka karena aku mencintaimu.” Laras mulai menjatuhkan tetes demi tetes air matanya .
“Apa aku membuatmu sedih ?” tanya Aldi lirih.
“Tidak. Tentu saja tidak . Kalaupun ada yang membuat aku sedih adalah keadaan,nasib ,dan juga waktu” jawabku datar tanpa melihat padanya.
“Kau ingin aku minta maaf ?” tanya Aldi lagi.
“Sejak kapan yang tidak bersalah harus minta maaf ? Sejak kapan cinta membolak-balikkan keadaan ? Aku tidak menyalahkanmu tetapi Gina sahabat kecilmu itu. Tetapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur .Toh dia sudah lenyap dari dunia Fana ini. Aku tak ingin membahasnya lagi” jawabku emosi.
“Aku ingin kau tetap menjadi bintangku yang terang untuk yang pertama sekaligus terakhir kalinya. Kenapa kau menjadi pucat pasi ?”kecamnya.
“Jangan memandangku seperti itu ,aku tak apa. Matamu begitu ekspresif .Jangan menatapku begitu ,kau membuatku merasa bersalah” sahut Laras.
“Aku mencintaimu” kata Aldi sambil meremas tanganku.
“Aku juga” sahutku tanpa ekspresi. Aku tak tahu apa yang aku pikirkan saat ini.

“Kenapa ? Aku ini cacat ,tapi apa aku salah bila ingin bersamamu. Aku ingin bersamamu menghadapi saat-saat terapi yang menyakitkan. Aku ingin memelukmu sampai ujung usiaku ,sampai waktu yang tersisa untuk kita habis” katanya dalam tangis.
“Peluklah aku seerat mungkin, dan jangan pernah berniat untuk beranjak pergi dariku juga mengucapkan selamat tinggal untukku. Karena rasanya lebih menyakitkan dari apapun. Kalaupun kau harus pergi ,aku ingin kau pergi bersama kenangan indah tentang kita dan bukannya diiringi tangis atau ucapan selamat tinggal” jawabku menenangkannya.
“Ingat tidak ,waktu kecil aku sering berlari mengejarmu di tempat ini . Iya ! dibalkon rumahmu ini. Sebenarnya kamu tidak jauh dariku dan juga tidak berlari. Tapi aku selalu mengejarmu. Kamu tahu kenapa ?” tanyanya memancing perhatianku.
“Kenapa?” tanyaku penuh rasa ingin tahu.
“Karena aku takut kehilangan kamu. Lucu ya? Tetapi kalau sudah menggenggam tanganmu aku baru merasa tenang” Aldi menempelkan tangan Laras ke pipinya .
“Bolehkah,aku pergi bersamamu? Aku tahu hanya kau yang lebih kuat dari siapapun. Dan kau tahu tidak? Aku suka melihatmu dari kejauhan. Kelihatan indah seperti bintang yang terus bersinar walau jauh diatas sana. Aku sangat suka bintang”kataku sedih.
Aldi memegang erat pinggul Laras .
“Jangan bicara apa-apa. Berhenti ! Sekali lagi jangan bicara. Biarkan aku menangis sekali saja. Aku ingin memastikan bahwa cinta kita akan abadi untuk selamanya” kata Aldi perlahan di telingaku.
Aku pun membungkuk menempelkan kepalanya dibahu Aldi dan Aldi pun merangkul erat tubuhku.
“Apapun itu akan aku lakukan demi cinta. Cinta .Dan cinta yang selalu menjadi alasan.
Tetaplah menjadi bintangku yang selalu bersinar menerangi hatiku,jika mulai padam berdirilah di tempat yang bisa kulihat. Agar aku dapat melihat cantik dan indahnya pesona juga ketulusan cintamu” sahutku lembut.
“Aku ingin menangis” katanya lirih
“Biar ku temani”jawabku lembut menenangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar